Laman

Kamis, 28 Oktober 2010

Belief



"Some people do spend their whole lives together" (Anna - Nothing Hill)

Ingin sekali saya bisa percaya lagi kata-kata itu. Ingin sekali bisa seperti dulu, tak terlalu skeptis dan bisa lebih optimis. Badai kemarin telah benar-benar merubahku.......

Thank you for this storm. You did it man!! You realy take my belief in the existence of love, take my dream and my hope away!!!

Selasa, 26 Oktober 2010

Badai

Badaimu pasti telah berlalu. Lautmu telah tenang. Langitmu pun pasti telah berbintang. Kau bisa melaut dengan tenang sekarang. Senyum pasti tak pernah lekang dari wajahmu. 

Badaiku juga telah berlalu. Hanya saja lautku masih resah. Langitku pun belum masih gelap.

Biarlah......

Mungkin lebih baik begini. Agar aku tak mati rasa. Setidaknya aku masih bisa merasakan gelisah lautku dan pekat malamku. Badai telah mencabut salah satu indraku. Indra kepercayaanku. Mungkin kau tak akan pernah tahu apa saja yang telah badai ambil dariku. Kau tak akan pernah perduli. Karena badai ini adalah permainanmu......

Ingin sekali suatu hari nanti kau merasakan apa yang aku rasakan sekarang. Bukan dendam hanya agar ingin kau tahu rasa ini.....


Senin, 25 Oktober 2010

Bulan


Langit malam ini indah. Beruntung aku masih bisa menikmati selimut bumi ini di tempat favoriteku. Bulan dan bintang. Dulu aku lebih memilih bintang ketimbang bulan. Tapi kini aku lebih menyukai bulan. Bulan lebih realistis. Lebih dinamis. Bentuknya tak pernah sama disetiap harinya. Selalu berubah hingga nanti akan kembali ke bentuk semula. Kadang sempurna, kadang hilang setengah, atau hanya seprempat. Di satu hari indah dan terang, di lain hari gelap menakutkan, atau redup tak jelas. Sama seperti hidup yang akan selalu berubah tapi kemudian semua kembali ke asalnya. 

Bintang statis. Sinarnya kadang terlalu memabukkan. Terlalu menyilaukan hingga membuat kita buta. Membuat kita tak bisa berhenti memujanya. 

Cinta
Malam
Bulan

Selasa, 05 Oktober 2010

Korean Movie Night


Jadi ceritanya berkumpulah kami penghuni kos Wisma Galuh kemarin malam. Setelah (seperti biasa) pembahasan tentang gosip-gosip terpanas seputar anak-anak kos untuk hari itu selesai dibahas tuntas, kami semua mulai memikirkan apalagi yang harus kami lakukan agar tidak menyia-nyiakan waktu kami yang sangatlah berharga kemarin malam. Nah setelah berbagai macam pertimbangan akhirnya kami memutuskan menonton film. Tapi kemudian muncul masalah, film apa yang harus kami tonton. Maklumlah kami ini termasuk movie freaks, jadi semua film baru dari hollywood sampai bollywood terbaru sudah kami tonton. Bahkan pernah sampai kami kirim testimoni yang berisi cap jempol kaki kami masing-masing ke produser-produser film agar memproduksi lebih banyak film secepatnya (ah yang ini agak lebay...). 

Setelah dilakukan pemungutan suara, akhirnya dihasilkan suara terbanyak untuk menonton film korea. Tapi ada masalah lagi (ah kali ini terlalu banyak masalah), film korea apa yang mau kami tonton. Perdebatan yang panjang pun tak dapat dihindari. Tapi kemudian setelah musyawarah mufakat akhirnya kami memutuskan menonton film korea yang agak jadul. Dirilis sekitar tahun 2004. 

Nah, akhirnya dimulailah korean movie night. Sebenarnya kami semua sudah pernah menonton film itu, tapi entah kenapa kami masih tetap ingin menontonnya kembali. Walhasil selang setengah jam kemudian efek film itu mulai tampak. Untunglah persiapan kami saat mulai menonton sangatlah matang. Camilan, bantal empuk dan yang paling penting adalah sekotak tisu. Jadilah malam itu kami semua nangis-nangis bombay, mewek-mewek bersama. Ya, inilah efek film korea yang paling kentara. 

Sebenarnya saya sendiri bukanlah penggemar fanatik film korea apalagi yang genrenya drama romantis. Tapi sebenarnya banyak sisi baik yang bisa didapat, setidaknya buat saya. Film korea bisa mengurangi kesinisan saya akan yang namanya "cinta", bisa sedikit mengembalikan saya akan kepercayaan bahwa cinta sejati itu ada. Karena saya bukanlah orang yang percaya akan adanya cinta mati, cinta untuk selamanya atau cinta-cinta lain yang digambarkan secara hiperbola. Saya penganut paham "boyaisme". Tapi saya sadar  bahwa terkadang kadar paham itu terlalu besar dalam diri saya. Dan itu tidak baik. Itulah sebabnya saya perlu penetralisir. Dan film-film korea tersebut menjadi pilihan saya. Lagipula film-film korea, menurut saya termasuk cukup realistis. Tak seperti jenis film lain, yang sebagian besar ending nya selalu bahagia, film korea banyak menyajikan ending yang tak pernah kita duga sebelumnya. Ending yang lebih realistis. 

Korean movie night ini masih bersambung. Nanti malam mungkin kami perlu membeli tisu extra lagi. Sebenarnya saat ini saya mungkin sangat perlu menonton jenis film ini, mengingat saya baru saja kehilangan seseorang (yang pernah bilang "apa bagusnya film korea?") yang menyebabkan kadar ketidakpercayaan saya akan "cinta" meningkat drastis. Jadi mungkin saya perlu lebih banyak penetralisir......

Selamat hari rabu dan selamat menonton film korea.....

Spasi

Baru juga satu hari tapi saya sudah sangat merindukan anda....
Hari ini saya banyak memutar kembali semua kenangan kita. Kenapa kita bisa sampai disini, kenapa kita terkadang bisa begitu saling menyakiti..
Dulu kita sangat bahagia saat keinginan kita tak banyak. Dulu kita bisa menikmati semua masalah kita bahkan menganggapnya tak ada. Kenapa kita tak bisa seperti dulu? Kenapa harus ada banyak keinginan?
Mungkin jeda ini kita perlukan. Mungkin spasi ini kita butuhkan hanya untuk manarik napas sebanyak yg kita perlukan. Menghirup udara yg dulu terasa semakin kita rasa kurang dan menyesakkan dada..........
aku masih berdiri disini, masih menuggumu, masih mengambil jeda sambil menghirup udara sepuasku.....

Jeda ini memiliki arti tersendiri buat saya, untuk memahami lebih dalam tentang rasa itu, ternyata saya rapuh. mudah2an saya bisa mengurangi bermain -main dengan hati orang. Lebih hati-hati.
Anak kecil lebih mudah menemukan kebahagiaan karena mempunyai lebih sedikit keinginan. lebih bisa memaknai masa "sekarang" nya. Saya suka dengan jiwa anak2 ituh.
Ini Adalah perjalanan. Bahkan jeda juga bagian dari perjalanan itu. Nikmatilah!

Percaya atau tidak saya menikmatinya....
Hari ini saya menghabiskan waktu saya seperti anak "abg" ....benar benar "abg"..nongkrong seharian sama anak kos, tertawa, godain cowok (meminjam istilah mereka), nonton film rame-rame tidur pun rencananya rame-rame...
Ya, saya menikmatinya...walau kadang saat saya ingat kembali ada rasa hampa....saat saya tertawa saya belum bisa sepenuhnya tertawa, saat ada kejadian menarik atau pembicaraan yang ga penting dan menggelikan ingin sekali rasanya berbagi dengan anda, ingin sekali rasanya menertawakannya kembali dengan anda.
Jeda ini akan saya gunakan untuk mengumpulkan lagi hal ga penting yang suatu hari nanti bisa saya bagi dengan anda......saat kita tak lagi bergumal dengan begitu banyak keinginan....

Peramal paling jitu pun tidak bisa memastikan masa depan seperti apa. jadi aku tidak bisa berjanji.
Sebuah kesia-siaan ketika kita bermimpi, berandai – andai tentang masa depan disaat kita bisa menikmati setiap moment, setiap ‘sekarang’.  Mendengarkan lagu dari Ipod yang sama, menonton bola, pergi ke gunung, bercerita tentang sesuatu yang nggak penting, semua akan menjadi kenangan di masa depan — yang masih nggak ketahuan apakah akan kulewati dengan atau tanpa kamu.



"Seindah apapun huruf terukir, dapatkah ia bermakna jika tidak ada jeda?
Dapatkah ia dimengerti jika tidak ada spasi??
Pegang tanganku tapi jangan terlalu erat, karna aku ingin seiring, bukan digiring."
( Filosofi Kopi by Dewi Lestari)

Senin, 04 Oktober 2010

Winter

The leaves were falling from the great oak at the meadow’s edge. They were falling from all the trees. One branch of the oak reached high above the others and stretched far out over the meadow. Two leaves clung to it’s very tip.

“It isn’t the way it used to be,” said one leaf to the other.

“No,” the other leaf answered. “So many of us have fallen off tonight we’re almost the only ones left on our branch.”

“You never know who’s going to go next,” said the first leaf. “Even when it was warm and the sun shone, a storm or a cloudburst would come sometimes and many leaves were torn off, though they were still very young. You never know who’s going to go next.”

“The sun seldom shines now,” sighed the second leaf, “and when it does, it gives no warmth. We must have warmth again.”

“Can it be true,” said the first leaf, “can it really be true, that others come to take our places when we’re gone, and after them still others, and more and more?”

“It really is true,” whispered the second leaf. “We can’t even begin to imagine it, it’s beyond our powers.”

“It makes me very sad,” added the first leaf.
They were silent a while.
Then the first leaf said quietly to itself, “Why must we fall?”

The second leaf asked, “What happens to us when we have fallen?”

“We sink down.”

“What is under us?”

The first leaf answered, “I don’t know. Some say one thing, some another, but nobody knows.”

The second leaf asked, “Do we feel anything, do we know anything about ourselves when we’re down there?”

The first leaf answered, “Who knows? Not one of all those down there has ever come back to tell us about it.”

They were silent again. Then the first leaf said tenderly to the other, “Don’t worry so much about it, you’re trembling!”

“That’s nothing,” the second leaf answered, “I tremble at the least thing now. I don’t feel so sure of my hold as I used to.”

“Let’s not talk any more about such things,” said the first leaf.

The other replied, “No, we’ll let it be. But — what else shall we talk about?” It was silent, but went on after a little while. “Which of us will go first?”

“There’s still plenty of time to worry about that,” the other leaf said reassuringly. “Lets remember how beautiful it was, how wonderful, when the sun came out and shone so warmly that we thought we’d burst with life. Do you remember? And the morning dew and the mild and splendid nights…”

“Now the nights are dreadful,” the second leaf complained, “and there is no end to them.”

“We shouldn’t complain,” said the first leaf gently. “We’ve outlived many, many others.”

“Have I changed much?” asked the second leaf shyly.

“Not in the least,” the first leaf said. “You think so only because I’ve gotton to be so yellow and ugly. But it’s different in your case.”

“You’re fooling me,” the second leaf said.

“No, really,” the first leaf answered eagerly, “believe me, you’re as lovely as the day you were born! Here and there may be a little yellow spot. But it’s hardly noticeable and makes you only more beautiful, believe me.”

“Thanks,” whispered the second leaf, quite touched. I don’t believe you, not altogether, but I thank you because you’re so kind. You’ve always been so kind to me. I’m just beginning to understand how kind you are.

“Hush,” said the other leaf, and kept silent itself, for it was too troubled to talk anymore.

Then they were both silent. Hours passed.

A moist wind blew, cold and hostile through the treetops.

“Ah, now,” said the second leaf, “I…” Then it’s voice broke off. It was torn from it’s place and spun down.
Winter had come.

From “Bambi, a Life in the Woods”

Jumat, 01 Oktober 2010

Sawah

“Kok hari ini kamu cantik Jeng?”

“Alaaah Mas iki…berarti kemaren-kemaren saya ngga cantik dong?”

“Lha emang ngga kan..?” (tampang dibego-begoin)

“Argghhhh….Mas iki piye toh? Udah ngga pernah romantis, mbo ya jangan terlalu jujur gitu!” (gerakan tangan memuku-mukul dan mencubit-cubit dengan sasaran pinggang)

“Eeeehhh….sakit to Jeng….mbo ya jangan nyubit-nyubit gitu…jangan di pinggang dong Jeng..”

“Biar aja…lha wong Mas sendiri bikin kesel..!!”

“Yo wis…yo wis…yang penting kan Mas suka sama Diajeng to?”

“Alaaahhh…” (mesem-mesem)

“Eh…Jeng makasi ya udah bantuin nyari rumah... .Udah nunjukin rumah ini”

“Oh..iya Mas..Ora pa pa…Dari dulu kan Mas suka sekali daerah ini. Pengen banget punya rumah di daerah sini.”

“Iya..Jeng…Memang dari dulu ingin punya rumah disini. Suasananya itu lho Jeng..Lingkungannya itu lho..” (menjelaskan dengan gerakan tangan)

“Iya Mas…Nanti kalo Mas udah pindah ke rumah ini, Diajeng harap ini benar-benar jadi tempat  Mas pribadi ya Mas..Become your own privacy gitu..”

“Iya Jeng…”

Kali ini episode tentang sawah. Karena percakapan ini kita lakukan di depan hamparan sawah di dekat rumah yang kau tinggali sekarang. Dulu masih sawah. Tapi sekarang sudah menjadi perumahan baru. Sawah itu sudah tak ada. Sayang aku tak sempat mengabadikan sawah itu dalam bingkai foto seperti bingkai foto batu yang telah aku abadikan. Saat itu kita berkhayal (seperti biasa) membeli satu kaplingan rumah yang akan dibangun diatas sawah itu. Disebelah mana lokasi yang kita inginkan, model rumah, design interiornya, sampai akhirnya kita membahas yang ngga penting lagi.

Ah…tak terasa episode tentang sawah ini sudah 2 bulan yang lalu. ..Saat kau akan memulai kehidupanmu di tempatmu yang baru…

“I don’t want to be your whole world, I just want to be a part of your life…...”

“Woww…I like your words.. Jeng”

Kamis, 30 September 2010

Tentang Kopi


Tulisan ini saya buat karena entah kenapa minggu ini banyak sekali tulisan tentang kopi di dunia perblogan yang saya baca. Ada yang membahas tentang kebaikan kopi yang tersembunyi yang merupakan salah satu antioksidan yang membantu mencegah kanker, tapi tentu saja jika diminum secara tidak berlebihan. Karena kafein yang terkandung di dalam kopi juga dapat menyebabkan penyakit jantung jika dikonsumsi secara berlebihan (8 gelas sehari). Ada yang membahas tentang filosofi kopi dari Tuhan yang menganalogikan kopi dalam sebuah cangkir yang berbeda-beda. Saya sendiri setuju dengan filisofi yang dibuat penulis. Bahwa tak penting kopi itu dalam cangkir plastik atau keramik, tapi yang terpenting adalah rasa kopi itu sendiri. Bahwa rasa kopi itu sendiri adalah kehidupan  yang diberikan Tuhan kepada kita. Terkadang kita hanya cukup berterimakasi saja. Karena Tuhan tak akan memberikan kopi yang bukan menjadi jatah kita. Dan yang terakhir, ada yang membahas tentang kopi luwak yang konon adalah kopi paling mahal di dunia. 

Saya sendiri adalah penikmat kopi. Tapi saya bukanlah penggemar fanatik minuman ini yang bisa membedakan mana kopi yang punya cita rasa tinggi atau cita rasa buruk. Saya hanya penikmat kopi di pagi hari atau sore hari atau ketika saya memerlukan tambahan kafein. Saya suka pagi ketika saya bisa menikmati kopi di balkon kamar atau sore saat matahari mulai memerah. Kopi terkadang obat penenang saat saya merasa gelisah. Kopi apapun itu, dalam cangkir apapun dia disuguhkan adalah kopi yang hanya perlu dinikmati. Itu jelas pilihan yang kita buat sendiri.....

Have a nice friday and a cup of coffee......

Cinta
Senja
Kopi


Batu


"Ah...mas kan memang nggga pernah romantis. Ngga pernah gitu ngasi saya hadiah. Boro-boro hadiah, bilang sayang aja jarang"

"Memang penting ya diajeng? Yang penting kan mas disini sekarang. Makan bareng diajeng. Piye to?  Mesti ngasi apalagi toh?"

"Ya...apa aja mas...Biar kayak orang lain gitu. Biar romantis gitu lho mas.." (Mulut mulai monyong-monyong)

"Yo wis....gini wae...iki mas kasi batu iki. Kan mirip kayak hati toh?"

(Wajah mulai Sumringah) "Wahhh....ternyata mas udah bawa ini dari tadi buat diajeng to? Yo wis ora pa pa mas....walaupun cuma batu yang penting kan bentuknya hati trus mas yang ngasi. "

"Sebenernya mas baru nemu diajeng. Tuh ada di pot bunga tadi"

Sreeeetttttt......Sroooootttt.....Gubraaakkkkk....


Episode batu ini memang benar ada. Batunya juga masih aku simpan di kotak jejakku. Tapi tentu saja dalam episode itu kita ada di kota ini dengan bahasa kota ini. Aku yakin kau masih ingat, karena kau bilang tak akan pernah lupa jejak kita kecuali kau kena sindrom hilang ingatan. Aku benar-benar merindukan hal-hal kecil ini. jejak-jejak kecil ini. Tentang air terjun, danau, mendengarkan iPod bersama, menonton bola, berdebat hal ngga penting.

Suatu hari nanti, saat aku harus pergi, akan kubagi kotak jejak ini denganmu. Karena kotak ini bukan hanya punyaku tapi juga punyamu.....

"Kenapa  kau nyaman bersamaku?"
"Entahlah....aku tak tahu. Yang aku tahu hanyalah aku merasa bahagia ketika aku bersamamu."

Rabu, 29 September 2010

Real

"Your boyfriend is not the center of the universe"

That's right. We have our own life, we have to dicided what we going to do with our self. Don't you ever depending your life with a person. Because when you lost that person you will die, you can not do anything else without that person. Is that realy what you want? 

"People change. Time flies."

Don't be pathetic by depending your happiness with someone or something. This is real world and there is only real love, not romantic love. So, stop faking and just face it.....

Senin, 27 September 2010

Telaga




Pagi ini pertanyaan itu muncul kembali. Kenapa kita tak bisa berada di perahu yang sama. Kenapa tak boleh ada kata "kita" jika aku ingin hubungan ini baik-baik saja. Kenapa aku tak bisa menikmati pagi bersamamu, atau kenapa aku tak bisa melihat indahnya langit di tempatmu. Kenapa bukan aku.

Aku tahu mungkin rasamu padaku sudah tak ada lagi. Terkikis karena lelahmu telah terobati. Menguap karena dahagamu telah menemukan sumber air yang selalu menjadi tujuanmu. Tapi rasaku masih tetap ada. Karena rasaku bukanlah lelah. Bukanlah persinggahan. Rasaku hanyalah telaga kecil yang sempat menjadi tempatmu melepas penat saat kau mencari sumber mata airmu. Tak akan pernah berarti buatmu. Tapi telaga ini tak bisa mengering. Walau aku ingin. Karena alangkah baiknya jika telaga ini menguap kemudian hilang. 

Taukah kau, setiap kali kulihat langkah demi langkahmu menuju sumber air itu rasanya sangat menyesakkan. Rasanya udaraku mengering. Tapi mungkin kau tak akan pernah ingin tahu. Karena setiap kali aku bertanya "kenapa" kau hanya tersenyum kemudian berpaling. Perahu itu pernah menjadi impianku mengarungi samudra bersamamu. Tapi ternyata kau tak menginginkannya. Kau ingin kita berada di perahu yang berbeda karena tak cukup tempat bagiku untuk ada disana. 

Mimpiku tak pernah menjadi mimpimu. Tak pernah ada kata "kita". ........

Minggu, 26 September 2010

Salah

In life there is no safety net. Well, setidaknya itu menurut saya. Tidak ada situasi yang benar-benar aman. Karier, pekerjaan, hubungan asmara, hubungan pertemanan, hubungan keluarga, semua punya resiko tersendiri. Bahwa hidup adalah masalah pilihan. Dan salah satu hal yang mungkin dari pilihan tersebut adalah kita mengambil pilihan yang salah. Itulah resiko. Mengambil jalan yang salah bukan berarti kita salah, atau kita melakukan dosa besar yang tak terampuni, kita hanya mengambil jalan yang kurang benar. Salah satu hal yang tak boleh kita lakukan adalah menyesal karena telah mengambil jalan tersebut. Jangan pernah menyalahkan diri kita sendiri terus-menerus akan pilihan yang kita ambil. Karena saat kita membuat satu kesalahan itu berarti kita menemukan satu jawaban lagi tentang hidup. Sehingga jika suatu hari nanti, jika ada orang yang bertanya kita tidak lagi penasaran, tapi kita tahu jawabannya dengan pasti. Karena kita pernah salah. Ambil resiko dan jangan pernah takut untuk salah. Toh membuat satu kesalahan tak akan menyebabkan hujan atau badai. Belajarlah dari kesalahan. Semakin banyak kita salah semakin banyak jawaban yang kita tahu. 

Iya...saya pernah salah. Dan saya akan belajar dari kesalahan tersebut. Tapi saya tak mau menyalahkan diri saya terus-menerus. Saya tak mau menghukum diri saya lagi. Begitu juga orang lain. Saya tak mau orang lain terus menghakimi saya. Semua orang pernah salah tapi bukan berarti kita bisa menghakimi dan terus-menerus menilai orang tersebut. Berhentilah menilai seseorang maka kita akan belajar mencintai orang tersebut. Kata maaf untuk suatu kesalahan memang sangat mudah untuk diucapkan. Tapi setidaknya kita punya hati besar untuk mengucapkan kata tersebut. 

have a nice monday everyone,,,

Kamis, 23 September 2010

Blu-ray


Jikalau dahulu kala kita sering menggunakan  disket, kemudian CD, lalu DVD, sekarang kita mungkin akan beralih ke media penyimpanan baru bernama Blu-ray Disc (BD). Dalam sejarahnya BD digunakan untuk menyimpan data, termasuk data media digital seperti video dengan High Definition (HD). Dari segi kapasitas BD dapat menyimpan 25 GB pada setiap lapisannya, sedangkan pada DVD hanya bisa menampung 4,7 GB pada setiap lapisannya. Bahkan akhir-akhir ini sudah dikembangkan BD yang dapat menampung 50 GB data pada setiap lapisannya. 

Sebenarnya BD merupakan salah satu alternatif bagi para pecinta multimedia baik berupa video atau game dengan kualitas High Definition. Walaupun sudah ada HD DVD yang mungkin masih kalah dari segi kapasitas penyimpanan data. Bahkan dari berita terakhir yang saya baca, akan segera disiapkan proyek untuk pengembangan BD yang dapat menampung 100 GB data. Hal ini tentu saja akan menjadi angin segar bagi mania film atau game dengan kualitas High Definition karena mereka tak perlu terbatasi oleh kapasitas data yang ingin mereka simpan. Kualitas memang harus diselaraskan dengan kapasitas. Karena apa gunanya kualitas yang bagus kalau kita masih terbatasi oleh kapasitas. 

Selasa, 21 September 2010

Kajailan Di Dunia Maya

Hari ini mendung, tapi mungkin tak semendung hati seorang teman saya yang sejak tadi pagi nangis bombay gara-gara dia tak bisa mengakses akun facebook nya, padahal menurut dia username dan password yang dia masukkan sudah benar, tapi tetap saja dia diberitahukan kalau password yang dia masukkan salah. Kasian sekali teman saya ini, karena dia adalah facebooker sejati, yang mungkin bisa sakit jika sehari saja tak membuka situs jejaring sosial ini. Kalau mencuri istilahnya, seperti kehilangan setengah jiwanya.

Baru kemarin saya membaca blog mbak Risma Budiyani yang juga mengalami hal serupa. Bahkan mbak Risma ini kehilangan akun FB dan email Yahoo sekaligus. Bertambah lagi satu kejailan di dunia maya. Ada saja orang iseng yang mungkin amat sangat penasaran dengan isi akun seseorang. Tapi hal ini bisa dijadikan pembelajaran bagi kita. 

Untuk yang baru ingin membuat akun email, mungkin ada baiknya ada memilih penyedia layanan email yang memberikan pengamanan bertingkat. Semakin rumit semakin baik. Jangan pernah melewatkan secret question dan jangan  membuat password yang mudah ditebak (seperti misalnya tanggal lahir, deret angka, warna kesukaan, dll, dsb, etc). Karena sebenarnya orang-orang jail tersebut hanya menggunakan sistem coba-coba, dan eng ing eng.....ternyata mereka berhasil membobol akun kita.

Dan bagi anda yang merasa akun anda kurang aman, segeralah ganti password anda juga secret question anda. Kalau kata mbak Risma buatlah pertanyaan sesulit mungkin yang hanya anda dan Tuhan yang tahu. Dan bagi anda yang emailnya dipenuhi data-data penting segeralah backup data anda. 

Senin, 20 September 2010

Tanda Seru

Sebenarnya hal ini adalah kejadian sepele. Ceritanya, kemarin malam saat saya sedang kongkow-konkow dengan teman-teman kos saya tiba-tiba salah satu dari mereka ada yang nyeletuk dengan sewot (eh ada ya?) 

"Ni orang maskudnya apa sih? Marah apa gimana sih? "

"Emang kenapa Lan?"

"Lihat deh  baca aja SMS ini"

Otomatis anak-anak kos lain membentuk lingkaran melihat SMS yang ditunjukkan si Milan. Kurang lebih beginilah isi SMS tersebut :
"Lan! Kamu dimana? Ntar aku mau ke kos kamu! Mau minjem catetan!"
Jika dilihat sepintas memang tidak ada yang aneh dari SMS itu. Tapi yang kemudian membuat si Milan gondok setengah hidup adalah tanda seru di setiap akhir kalimat. Bukan apa-apa, hanya saja menurut si Milan tanda seru itu konon katanya menunjukkan kalau yang ngirim SMS itu lagi marah-marah atau ngotot, padahal isi SMS nya tidak ada hubungannya dengan rasa marah. Memang kalau menurut si Wikipedia tanda seru adalah tanda baca yang lazimnya digunakan setelah kata seru yang menunjukkan  rasa marah, rasa sakit, dsb, dll, etc. Ya, sekarang salah siapa coba? salah keluarga gw? salah temen-temen gw? (eh, maaf, kalau yang ini kutipan kata-kata artis yang kemarin marah-marah di teve), si Milan tentu saja tidak salah menafsirkan SMS itu, wong menurut ejaan yang baik dan benar dan budiman tanda seru itu memang salah tempat, tapi yang ngirim SMS juga ngga salah, wong itu kreasi dia kok. 
Yah, tapi walaupun begitu, sudah sepantasnya kita memperhatikan bahasa yang kita gunakan baik tulis ataupun lisan. Baik itu formal ataupun informal. Walaupun informal, bukan berarti kita mengabaikan kaedah-kaedah bahasa yang telah ditentukan. Karena bahasa merupakan alat komunikasi yang sangat vital. Karena bahasa kita bisa jadi salah paham. Jadi marilah kita menggunakan bahasa (bahasa apapun) yang baik dan benar.

FWA (Flexibelwork Arrangement)

Ceritanya, minggu lalu saya sedang iseng dan rajin saya sedang kambuh, saya berniat beres-beres kamar saya di rumah di kampung. Sebenarnya bukan beres-beres yang sebenarnya, hanya ingin mengepak majalah-majalah lama saya untuk saya pindahkan ke gudang. Nah, di tengah acara beres-beres itu, saya tertarik pada sebuah majalah yang covernya Cut Tari, bukan karena kasusnya dengan aril sedang marak, tapi karena tagline nya "Cut Tari, Stop hura-hura". Entahlah, tapi tagline itu membuat saya ingin membuka lagi majalah itu.

Dan akhirnya sampailah saya pada artikel yang membahas tentang Flexibelwork Arrangement (FWA). Saat Waktu Tak Menjadi Kendala, itulah judul artikel tersebut. FWA adalah sistem pengaturan waktu kerja yang lebih flexibel. Sistem ini telah banyak berkembang di negara-negara Amerika dan Eropa sejak tahun 90'an. Sistem ini sangat menguntungkan bagi para pegawai yang mengambil program sekolah lagi atau pagawai yang menjadi ibu baru. Pasalnya sistem ini lebih flexibel dalam hal jam kerja. Di Indonesia sendiri, FWA diramalkan akan mulai berkembang. Sebab, FWA menjadi salah satu nilai penting untuk merekrut atau mempertahankan karyawan yang potensial. Selain itu dengan FWA juga dapat mngurangi frekuensi karyawan yang absen atau terlambat sehingga produktivitas kerja lebih tinggi dan karyawan lebih fokus terhadap hasil kerja bukan pada lama jam kerjanya. 
Masih dari artikel tersebut, FWA ada beberapa macam :
  • Flexitime. Pada initinya dengan flexitime ini boleh datang dan pulang jam berapapun kita mau, tapi harus mencapai terget 8 jam kerja 
  • Compressed Hour. Jam kerja bisa lebih pendek pada hari-hari tertentu, tapi nanti digantikan dengan jam kerja yang lebih panjang di hari-hari berikutnya.
  • Telecommuting. Nah yang ini yang paling enak, yaitu bekerja dari rumah untuk semua pekerjaan. Hahay.....
  • Part Time. Bekerja kurang dari 30 jam seminggu
  • Job Sharing. Satu pekerjaan dilakukan berdua. Gaji pun dibagi dua.
Walaupun sistem kerja ini sangatlah flexibel, tapi tidak semua karyawan bisa mengajukan sistem kerja ini. Tergantung dari penilaian perusahaan tersebut terhadap karyawannya.
Pertanyaannya, dapatkah sistem ini diterapkan di lingkup pemerintahan? Saya rasa mungkin bisa. Misalnya saja bagi karyawati yang menjadi ibu baru, mungkin bisa menerapkan sistem ini. 

Minggu, 19 September 2010

Jejak

Suatu hari nanti masihkah kau akan mengingatku? Masihkah kau akan mengingat jejak-jejak yang pernah kita buat? Hari ini aku mencoba mengumpulkan lagi semua jejak kita. Sampai saat ini aku masih tetap mengumpulkannya. Sampai suatu saat aku satau kau harus pergi.
Jejak itu baru saja sampai hujan kemarin. Saat kita melewatkan hujan di balkon kamar kosku. Aku selalu bisa tertawa saat bersamamu. Bahkan saat kau mengejekku. Saat kau bilang selera filmku jelek, karena aku suka film korea (tapi aku yakin setelah aku memberikan I’m Sam dan A Moment to Remember kau tak akan mengejekku lagi sama seperti saat aku meminjamimu Eat,Pray,Love). Kau mengejekku saat aku tak tahu alat pengukur tekanan udara itu apa, atau saat kau mengejek tulisanku. Aku selalu bisa tertawa.
Tapi masihkah kau mengingatku suatu hari nanti? Sebagai aku. Sebagai perempuan penyuka sepatu, whitecalla dan Sex And The City. Sebagai perempuan yang suka merubah kata. Sebagai perempuan penganut aliran boyaisme. Masihkah kau akan merindukan wangi rambutku, karena kau selalu menyukainya. Masihkah kau ingat janjimu membawakan bunga kesukaanku?

Sering aku bertanya, kenapa kau harus tinggalkan jejak-jejak itu untukku kalau dari awal kau tahu kau akan pergi. Kadang aku merasa kau tak pernah adil padaku.....

Jumat, 17 September 2010

UU Sepatu


Harusnya Pemerintah membuat peraturan tentang jumlah sepatu yang harus dimiliki oleh masing-masing orang. Khusunya bagi orang-orang yang amat sangat boros membelanjakan uangnya hanya untuk membeli sepasang sepatu, dimana sebenarnya dia sudah mempunyai jutaan sepatu. Harusnya dia menggunaka uangnya untuk hal-hal yang lebih berguna, seperti misalnya untuk melakukan kegiatan sosial, memberi makan anak yatim, dll,dsb.

Atau mungkin peraturannya buat toko sepatu yang menjual sepatu-sepatu baugus, murah, yang bisa membuat orang-orang tak bisa menolak untuk membeli sepatu-sepatu mereka.

Tapi sepertinya hal tersebut tidaklah mungking. Emang si Pemerintah ngga ada kerjaan lain apa? Yang lebih penting. Yang lebih urgent. Ngapain juga ngurusin orang yang mau beli sepatu. Seperti saya. Penting ngga sieh???



Arrrgggggghhhhh..!!! Oh....maaaeeeee.....God........

Somebody help me, this is bad addicted.............

Kamis, 16 September 2010

Phising

Bertindaklah aman! Lindungi diri Anda sendiri dari phishing dan pencurian identitas.

Akhirnya peringatan tentang phising atau pencurian identitas saya dapatkan juga sesaat setelah saya ingin mengomentari blog seseorang. Sebenarnya kasus phising ini sudah lama sekali marak. Sejak kasus nasabah sebuah bank yang kehilangan sejumlah uang mereka di bank tersebut. Hal tersebut sempat cukup meresahkan, bahkan ada teman saya yang termasuk orang yang sangat parnoid akhirnya mengambil semua tabungannya di bank tersebut dan memilih kembali ke cara konvensional untuk menyimpan uangnya, yaitu menyimpannya di bawah kasur. 

Well, memang tidak bisa dipungkiri bahwa kemajuan teknologi informasi akan selaras dengan kemajuan teknologi kejahatan. Tapi untunglah, dari artikel yang saya baca di sebuah situs berita bahwa aksi phishing alias pencurian identitas pribadi di internet tercatat tengah mengalami sedikit kelesuan dalam beberapa waktu terakhir (mungkin saja si phising ini sedang kurang darah kali ya?). Masih menurut situs berita tersebut bahwa penurunan phising dikarenakan penurunan volume serangan yang berasal dari toolkit otomatis (URL phishing dibuat menggunakan toolkit phishing otomatis). Tapi hal ini tidak menjamin bahwa aksi phising di dunia maya telah benar-benar bisa dilenyapkan. Adapun kemungkinan melemahnya serangan dari penjahat cyber tersebut bisa jadi lantaran belum adanya momentum suatu kejadian atau event global yang bisa mereka dompleng.

Tapi sebenarnya jauh dari bahasan tentang phising tersebut diatas, bayangan saya tentang phising sangatlah sederhana. Bahwa ada seseorang yang dengan sengaja menggunakan identitas pribadi orang lain tanpa seijin orang tersebut, baik itu nama, tenpat tanggal lahir, jenis kelamin (yang ini pencurian KTP), Handphone (bukan handphone nya yang dicuri tapi biasanya no handphone nya yang disalah gunakan), dll, dsb. Dan menurut saya hal ini sangat melanggar hak asasi manusia. Betapa tidak, di jaman sekarang buat nyari KTP saja susah, harus melewati birokarasi yang panjang, eh enak-enak mau nyuri....(hahay...yang ini benar-benar tidak penting). 

Jadi kesimpulanya....Waspadalah!!! Waspadalah!! *ting

Senin, 13 September 2010

Jalan Memutar


Terkadang saat Tuhan ingin menyampaikan pesan kepada kita, Dia akan mengajak kita berkeliling. Berjalan-jalan.  Di sepanjang jalan itu akan banyak sekali yang akan kita temui. Kerikil, batu besar, palang, padang rumput hijau, turunan, tanjakan, jalan mulus, hingga akhirnya Dia akan meminta kita untuk berhenti dan merenungkan sejenak apa saja yang telah kita lalui.

Itulah yang sedang saya lalui sekarang. Tuhan mengajak saya untuk menempuh jalan yang memutar. Butuh waktu lima bulan untuk bisa menempuh perjalanan ini. Dan dalam kurun waktu tersebut saya merasa Tuhan terus ada disamping saya seraya bercerita dan sesekali tersenyum.
Jalan yang saya lalui tidaklah mudah. Menguras banyak tenaga, keringat dan air mata karena terkadang saya menemukan penghalang yang melukai saya. Dia awal perjalanan saya bertemu dengan seseorang. Saya merasa nyaman dengannya jadi saya bertanya pada Tuhan,

“Bolehkah saya menempuh perjalanan ini bersamanya?”
Tuhan tersenyum dan berkata,

“Aku tak akan melarangmu untuk mengajaknya. Cobalah. “

Kemudian kami mulai perjalanan kami bersama-sama. Rasanya sangat menyenangkan. Dia adalah teman seperjalanan yang sangat lengkap. Kami bisa membicarakan apa saja. Hingga kemudian  ada seseorang yang berteriak memanggilnya. Saat kami menoleh kebelakang, ada seseorang disana.

“Siapa dia?” Kutanyakan padanya

“Dia seseorang yang berjalan bersamaku.” Jawabnya

“Kenapa kau meninggalkanya?”

“Aku tidak meninggalkanya. Aku hanya sedang beristirahat dari perjalananku dengannya. Lalu aku bertemu denganmu.”

“Lalu sekarang bagaimana? Dia sedang menunggumu, apa kita akan melanjutkan perjalanan kita?” Tanyaku lagi.

“Entahlah.”  Dia mengangkat bahunya, tapi matanya tak lepas dari orang di belakang kami.

Saat itu aku sangat bingung. Lalu aku berpaling pada Tuhan dan bertanya,

“Apa aku harus melanjutkan perjalananku dengannya?”

“Aku tak bisa menjawabnya. Kau yang harus memutuskan. Perjalanan ini milikmu. Aku hanya menemanimu.”

“Tapi aku masih ingin bersamanya. Aku sangat ingin bersamanya. Bolehkah aku tetap bersamanya?”

Tuhan tak menjawab. Dia hanya tersenyum.

“Maukah kau melanjutkan perjalanan ini denganku?” Akhirnya aku bertanya pada teman seperjalannku.

Dia tak menjawab. Dia hanya diam. Tapi kemudian dia mulai berjalan. Pemandangan disekitar kami sangatlah indah. Dipenuhi bunga dan padang rumput. Dan aku merasa sangat nyaman. Sampai akhirnya aku mulai mendengar tangisan seseorang itu lagi di belakang. Awalnya cuma isakan. Dan aku berusaha untuk mengabaikan. Aku tak ingin melewatkan sedikitpun momen kebersamaanku dengan teman seperjalananku. Tapi kemudian isakan itu berubah menjadi jeritan. Dan aku masih berusaha untuk tidak menghiraukannya.

“Aku tak bisa. Aku harus pergi. Aku tak bisa meninggalkan dia sendirian dan melanjutkan perjalanan ini denganmu. Perjalanan yang kutempuh bersamanya sudah sangat jauh. Dan aku tak bisa meninggalkan dia begitu saja.” Kata teman seperjalananku akhirnya.

“Tapi kenapa? Kalau kau tahu kau tak bisa meninggalkanya kenapa kau mau ikut bersamaku dalam perjalananku? “ Tanyaku mulai terisak. Hatiku sesak, udara disekelilingku rasanya mencekikiku. Padang rumput indah tadi berubah menjadi gurun pasir.

“Kau bilang kau merasa nyaman berjalan bersamaku, jadi kenapa kau tak mau melanjutkan perjalanan ini? “ Lanjutku masih setengah memohon.

Tapi dia tak pernah menjawab. Dia hanya memutar arah dan berjalan menjauhiku. Aku tak bisa merasakan apa-apa. Karena semua rasa itu hilang saat dia memutar arahnya. Kucari Tuhan dan ternyata dia masih menemaniku.

“Tuhan apa yang harus aku lakukan? Aku ingin mengejarnya, aku ingin dia bisa mempertimbangkannya sekali lagi. Bolehkah?”

“Lakukanlah jika itu membuatmu lebih baik, sekali lagi ini perjalananmu. Kau yang menentukan arahnya.”

Kemudian aku mulai mengejarnya. Memutar arahku. Tapi rasanya jalan yang aku lalui saat aku mengejarnya terasa berbeda dengan jalan yang ketempuh saat aku masih bersamanya. Banyak sekali tanjakan yang membuatku lelah. Aku berusaha memanggilnya, mencoba menariknya dengan rasa nyaman yang aku janjikan, tapi dia tak memperdulikanku. Hanya sesekali menolehku. Dia terus berjalan kearah seseorang itu. Dan aku mulai mendengar seseorang itu menyuruhku pergi. Tapi aku tetap tak menghiraukannya. Aku mulai merasa perjalananku sia-sia. Aku sudah hampir  kehabisan tenagaku. Sampai akhirnya aku tiba di tempatku semula. Ditempat yang sama dimana seseorang tersebut menunggu teman seperjalananku tadi.

Telak. Aku tak bisa berbuat apa-apa lagi kecuali menerima bahwa mereka kini bersama. Bahwa kini mereka akan menereuskan perjalanan mereka. Aku benar-benar lumpuh. Benar-benar tak punya kekuatan lagi bahkah hanya untuk sekedar berdiri. Tapi kemudian aku sadar bahwa sedari tadi Tuhan masih bersamaku. Dan benar. Dia masih disampingku. Masih dengan senyuman itu.

“Tuhan, aku lelah. Aku tak punya kekuatan lagi.” Kataku.

“Aku akan memberikanmu kekuatan.” Katanya.

“Tapi aku tak ingin meminta apa-apa lagi. Kau sudah menemaniku sampai disini. Itu saja sudah cukup.”

“Kau memang tak meminta. Tapi aku selalu akan memberikannya padamu. Bangunlah. Dan renungkanlah apa saja yang telah kau lalui. Tidakkah kau lihat masih banyak sekali jalan yang bisa kau lalui.”

Dan begitulah, aku telah melalui perjalanan tersebut selama lima bulan ini. Dan yang bisa kurenungkan adalah aku merasa sangat egois. Aku mengabaikan tangisan seseorang itu. Aku mencoba meraih apa yang bukan menjadi jatahku. Sekarang bisa kusadari kesalahanku. Inilah pesan yang Tuhan ingin sampaikan kepadaku.

P.S. Untuk seseorang yang telah menangis dan merasa tersakiti oleh kesalahan yang telah saya buat, saya hanya bisa minta maaf untuk semuanya. Maaf karena saya telah mencoba menilai pada saat saya tidak ingin dinilai. Maaf karena saya sempat melepaskan emosi saya. Maaf karena saya sempat terpancing emosi.

Dan untuk mantan teman seperjalanan saya, saya juga minta maaf karena saya sempat menyakiti seseorang yang amat sangat kamu cintai. Maaf, telah berusaha menahan kamu selama ini. Saya akui semua adalah kesalahan saya. Saya yakin kamu pasti akan membaca tulisan ini. Dan tulisan ini saya buat dengan hati.

Sorry I’ve been ruined your life. I know, maybe you already have wonderfull life before you met me. Then I came and make your life so complicated. That’s all my fault. And I’m realy sorry for that.