Laman

Rabu, 17 Agustus 2011

Cukup

Dan begini saja sudah cukup. Saat aku bisa menjadi temanmu bergagi hal-hal konyol. Begini saja sudah cukup. Saat aku sangat merindukanmu, aku cukup dengan mendengar suaramau. Aku mungkin tak bisa menjadi teman berbagi hari-harimu, teman makan malammu, tapi aku cukup hanya dengan bisa menjadi teman akhir pekanmu sewaktu-waktu.
Tentu saja kita punya dunia yang berbeda. Deangan sejuta warna yang juga sangat berbeda. Tapi bagiku sudah cukup saat aku bisa mengucapkan selamat malam di akhir harimu, saat aku bisa membuatmu tertawa dan melapaskan sedikit penatmu hari ini.
Kita berdua tak pernah tahu sampai kapan aku akan merasa cukup. Tentu saja aku punya banyak keiinginan untuk melakukan banyak hal denganmu. Aku ingin bisa menyapamu dipagi hari, aku ingin bisa menghabiskan senja bersamamu dan aku ingin menjadi teman makan malammu.
Tapi buatku, saat ini, begini saja sudah cukup.


Senin, 24 Januari 2011

Untitled Yet

“Apa keputusanmu sudah tidak dapat dirubah Tia?” Hari itu Tatia mengunjungi ibunya. Berat memang rasanya bagi Tatia, tapi cepat atau lambat dia harus memberitahukan keluarganya. Dan dia memulainya dari sang ibu.
“Untuk saat ini, ini yang Tatia yakini Bu..... Tatia yakin kalian semua nantinya pasti akan mengerti keputusan Tatia “
”Tapi bagaimana dengan keluarga kita ? keluarga Deandra ? Apa kamu sudah siap menyandang status janda?”
”Setidaknya itu lebih baik, daripada istri tua kan bu ?”
Berlinang air mata ibu Tatia memeluk anak sulungnya. Anaknya yang tak pernah mau menunjukkan kepedihan hatinya pada orang lain. Bahkan pada ibunya sendiri.
”Apa salahmu nak, apa salahmu hingga nasibmu seburuk ini ?”
”Tidak ada yang salah bu. Deandra sudah berusaha menjadi suami yang baik, begitu juga dengan Tatia. Hanya saja mungkin jodoh kami hanya sampai disini.”  Alasan yang sangat klise batin Tatia.
“Seandainya saja kami dulu tidak ngotot menjodohkan kalian……” Ibu Tatia melepaskan pelukannya, menatap anaknya dengan penuh penyesalan.
“Tidak ada yang perlu disesali bu. Setidaknya Tatia pernah merasakan menjadi seorang istri. Tatia belajar bagaimana menjadi istri yang baik” Tatia menghapus air mata ibu tercintanya. Ibu yang tak pernah meninggalkanya. Ibu yang selalu memberikannya kekuatan untuk melangkah……
“Kapan kalian akan…….” Tak sanggup rasanya ibu Tatia melanjutkan kata-katanya. Terlintas dalam ingatannya, betapa cantiknya Tatia  di hari pernikahannya. Belum pudar semua kenangan itu, dan sekarang putrinya sudah harus menyandang status janda.
‘’Minggu depan kami akan menandatangani surat cerai bu......dan mulai saat itu kami resmi bercerai ‘’
Sekali lagi ibu Tatia memeluk putri tercintanya, mencoba mengambil sebagian beban yang dipikul putrinya.
“Bu…maafkan Tatia ya….”
Semakin erat ibu Tatia memeluk Tatia dan air matanya mengalir tanpa henti.

Sudah seminggu Tatia merasa pusing dan tidak enak makan. Awalnya dia mengira hal itu hanya karena rasa tegangnya menjelang hari perceriannya. Kalau saja hal tesebut tidak terlalu menggangunya dia tidak akan mau pergi ke dokter. Dan sendainya saja dia tau apa yang akan diketahuinya setelah dia pergi ke dokter, mungkin dia tidak akan mau pergi setidaknya sebelum dia menandatangani surat percerainnya.
”Apa anda yakin Dok ?”
”Yakin sekali bu, apa ibu tidak menyadarinya usia kandungan ibu sudah memasuki minggu ke delapan ?”
Minggu ke delapan ? itu berarti sudah 2 bulan. Dua bulan yang lalu. Masih terbayang di benak Tatia kejadian dua bulan yang lalu. Kejadian dimana Deandra mabuk dan.........
Oh Tuhan bahkan Tatia masih ingat bagaimana Deandra memanggilnya dengan nama Lia, nama wanita lain, wanita yang Deandra bayangkan bahkan saat meniduri Tatia. Masih terasa bagaimana pahitnya kepedihan yang Tatia rasakan saat itu.
”Kandungan ibu sangat lemah, ibu harus menjaganya baik-baik kalu tidak mau kehilangan kandungan ibu”
Kata-kata dokter menyadarkan Tatia dari lamunanya. Dokter mulai menuliskan resep tanpa memperhatikan wajah Tatia yang pias.
Apa, apa yang harus aku lakukan Tuhan? Seminggu lagi, tinggal seminggu lagi dia harus bercerai. Bagaimana mungkin sekarang dia mengandung anak dari laki-laki yang ingin dia tinggalkan.
Tatia tidak ingat kejadian selanjutnya. Yang dia ingat dokter menyerahkan resep, mengoceh tentang beberapa hal tanpa sedikitpun masuk kedalam ingatan Tatia. Tatia memutuskan untuk tidak kembali ke kantor. Dia ingin berada dirumah, rumah yang dulu sempat menjadi rumah impiannya bersama Dendra. Mengurung diri di kamar, kamar yang menjadi saksi kepdehian demi kepedihan yang harus Tatia lalui.
Seorang anak, anak Deandra. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Apakah dia harus mengurungkan niatnya, menerima tawaran Deandra untuk berpoligami, melanggar prinsip yang selama ini dia pegang teguh? Atau dia harus tetap bercerai, menururti egonya, dan menggugurkan anak ini? Tidak , anak ini anaknya juga. Ada darahnya dalam tubuh anak itu. Tatia mengelus perutnya, merasakan adanya kehangatan disana, menggugah naluri keibuannya.
”Jangan takut sayang, kita akan melalui semua ini bersama...” air mata Tatia mengalir begitu saja ketika megatakan kata-kata itu sambil tetap memegang perutnya. Bukan kepedihan yang dia rasakan, bukan rasa sakit yang dia temukan, hanya rasa haru dan kasih sayang yang membaur menjadi satu yang memberikanya kekuatan baru untuk tetap menjalankan hidupnya.

”Tia..halo..jadi makan siang ? Laper nih!” Ocehan Shinta membuat Tatia tersadar dari lamunannya. Lamunanya tentang bagaimana dulu dia jatuh cinta pada Deandra. Cinta yang tumbuh semenjak dia kecil, memimpikan Deandra sebagai pangeran yang akan membuat mimpi-mimpinya menjadi kenyataan.
”Sory..sory..sabar dikit kenapa sih! Emang kita mau makan siang dimana?”
”Sumpah deh ak paling benci denger pertanyaan satu ini!! Kamu ada tempat baru ngga? Bosen banget makan di tempat biasa.”
”Mmmm...ta kita cari tempat yang agak sepian gitu ya, ak mau ngomong sesuatu ma kamu”
”Ngomong apaan sih? Gawat amat!”
”Pokoknya ntar ak ceritain. Yuk!”

”What.....!! Hamil?! Yang bener, tapi Tatia kamu kan mau cerai kok bisa gini sih?”
”Aku tau...,tapi........ughhhh.....”
”Kamu sudah ngomong ke Deandra?”
”Ga, ga ada yang tau selain kamu dan sampai aku mau ga boleh ada satu orang pun yang boleh tau!”
”Bahkan ibu kamu?”
Wajah Tatia tampak ragu, tapi akhirnya dia menganggukkan kepala dengan mantap.
”Kamu gila ya?Trus apa yang akan kamu lakukan?aborsi?”
”Ga!Aku mau anak ini. Aku mau dia lahir, aku mau membesarkan dia, aku...”
”Tapi kamu ga mau bapaknya tau dia ada”
”Please ta.......jangan buat aku ngerasa tambah bersalah”
”Tatia, Deandra berhak tau. Dia ayah dari anak itu, dia harus bertanggung jawab”
”Aku tau Ta, tapi aku juga ngga mau anakku lahir dan tumbuh dalam keluarga palsu. Deandra ngga akan pernah mencintai aku. Sekarang atau nanti. Aku juga ingin anak ini tumbuh dalam keluarga yang utuh, aku ingin mengorbankan perasaanku, menjalani pernikahan palsu, menjadi istri yang yang sekedar status. Tapi di sisi lain, aku juga punya kehidupan sendiri, aku ngga akan sanggup melihat Deandra bersama wanita lain, bersama satu-satunya wanita yang ada dalam hatinya. Aku nggak sanggup mengakui kalau aku sanggat mencintai dia.” Tatia memalingkan wajahnya, mencoba menahan air mata yang selama ini ditahanya. Dia tidak ingin menunujukkan betapa berat semua beban yang harus dipikulnya.
”Tia....” Shinta mengelus bahu Tatia, mencoba menyalurkan sedikit energi untuk sahabat tercintanya. Hampir enam belas tahun mereka bersabat. Tatia sudah seperti buku terbuka bagi Shinta, selalu bisa dibaca. Tapi Tatia tidak pernah mau mengakuinnya. Selalu berusaha menjadi tegar. Dalam hati Shinta sangat membenci Deandra, lelaki yang selalu dicintai Tatia, selalu dipuja Tatia. Satu-satunya lelaki dalam hidup Tatia. Shinta ingat ketika Tatia mengatakan akan menikah dengan Deandra, dijodohkan oleh orangtuanya. Waktu itu Shinta ingin sekali menyadarkan Tatia, membangunkanya dari mimipi-mimpi indah yang sudah terlanjur dibangunnya. Saat itu Tatia tau kalau Deandra sudah mempunyai kekasih, tapi Tatia mencoba menyakinkan dirinya bahwa Deandra lambat laun akan bisa mencintainya setelah mereka menikah. Shinta juga sangat ingin mempercayainya, tapi jauh di lubuk hatinya, entah kenapa dia punya firasat semua itu tak akan pernah terjadi. Deandra tak akan pernah berpaling pada Tatia. Tapi saat itu dia tak ingin merusak kebahagiannya sahabatnya. Tidak tega merusak binar-binar bahagia di wajah Tatia. Sekarang semuanya firasatnya terbukti. Dan sekarang dia tak sanggup melihat begitu banyak kepedihan di wajah Tatia.
”Tia...,aku akan selalu mendukung semua keputusanmu. Lakukanlah yang menurutmu baik. Aku akan selalu ada untuk membantumu...”
”Aku tau...,makasi ya Ta”
”Ok..katakan sudah berapa usia calon keponakanku?”
”Kata dokter delapan minggu...kandunganku juga sangat lemah, aku harus menjaganya baik-baik”
”Kalau begitu kamu harus makan yang banyak dan kita harus segera memesan makanan kalau tidak mau ditelpon bos karena kita terlambat datang. Ugh...aku sudah bosan melihat tampang yang selalu merengut..” Shinta mengerutkan kedua alisnya dan mengerucutkan bibirnya, mencoba menirukan wajah bos mereka ketika sedang marah. Tatia tersenyum, sesaat dia bisa melupakan semua masalahnya dan harus mencoba melupakannya. Demi anaknya, demi satu-satunya alasan bagi dirinya untuk terus melanjutkan hidupnya.

Malam sebelum percerainnya Tatia tidak bisa tidur. Dia sudah melakukan semua ritual yang biasa dia lakukan sebelum tidur. Sekarang dia bergerak-gerak gelisah di tempat tidurnya yang besar. Deandra tidak pulang hari ini, seperti biasa. Dia sendirian dan diserang dilema yang berkecamuk dalam benaknya. Dia mencoba mempertimbangkan keputusannya. Apa yang akan Deandra lakukan kalau aku mengatakan aku sedanh hamil? Apakah dia akan membatalkan perceraian ini, kembali padanya dan mencoba semuanya dari awal? Atau dia tetap ingin menikahi Lia? batin Tatia dalam hati. Rasanya berjam-jam Tatia mencoba memejamkan matanya, menyingirkan sejenak dilemanya, hingga akhirnya dia bisa tertidur lelah.

Matahari mererobos masuk ke kamar Tatia melalui jendela kamarnya, jendela besar dengan tirai berwarna putih tulang yang sengaja dibiarkannya terbuka tadi malam agar angin segar dapat berembus masuk ke kamarnya yang terasa pengap walaupun kamar itu luas. Tatia ingin membuka matanya, tapi tak bisa. Kepalanya berdenyut-denyut, perutnya mual. Oh Tuhan jika ini gejala diawal kehamilannya kumohon jangan sekarang. Hari ini aku harus menghadapi hari yang penting. Aku harus terlihat tenang dan tegar. Aku takkan bisa melakukannya jika kondisiku sperti ini.
Dengan sekuat tenaga Tatia mencoba bangun dari tempat tidur kingsize-nya, kepalanya semakin berdentam keras, melawan. Pandangannya kabur. Dia berjalan pelan ke kamar mandi, berdoa semoga dengan mengguyur badanya dengan air dingin sakitnya akan sedikit berkurang. Belum pernah Tatia merasakan mandi yang menguras tenaga. Setelah menegenakan setelannya yang paling bagus, yang rasanya dia lakukan berjam-jam, Tatia turun ke dapur ingin membuat secangkir kopi. Tatia tidak memperkerjakan pembantu. Awalnya dia ingin menjadi istri super yang akan melakukan semua pekerjaan rumahnya sendiri. Mengurus suami dan rumah sekaligus. Tapi sekarang dia menyesali keputusannya. Dia merasa sendiri dan tak berdaya.

 ”Tatia, kamu baik-baik saja kan? Mukamu pucat sekali? ” Seperti biasa Deandra selalu bersikap baik, bahkan saat mereka harus memutuskan mereka akan bercerai atau tidak. Deandra selalu menjadi suami yang baik. Hanya satu yang tidak pernah dia bisa berikan pada Tatia. Cinta.
”Ya...ya aku baik-baik saja. Aku hanya .............” Tatia menatap Deandra. Akankah dia akan membatalkan perceraian ini kalau dia tahu kalau aku sedang hamil?Akankah dia mau melupakan kebahagiannya dengan orang yang dia cintai kalau dia tahu aku sedang hamil. Kalaupaun ya, akankah dia bisa mencintai aku?
”Deandra...aku.....”
”Maaf Tia, bisakah kita mempercepat semua ini, aku harus pergi ke dokter”
”Ke dokter? Kenapa? Kamu sakit?”
”Bukan, bukan aku. Tapi....”
Deandra diam, tidak tega menyebutkan nama wanita  itu. Tidak tega menyakitiku lagi.
”Lia” akhirnya kuselesaikan kalimat Deandra.
”Ada apa dengannya? Apa dia sakit?”
”Tidak, dia baik-baik saja. Dia hamil.”
Lia hamil. Lia mengandung anak Deandra. Anak yang sangat dia nantikan dari wanita yang sangat dia cintai. Dan aku juga hamil. Aku juga mengandung anak Deandra. Tapi Deandra tidak mencintaiku.
Kupandangi wajah Deandra. Wajahnya tampak sangat sedih, aku tahu dia begitu karena tidak ingin menyakitiku. Tapi di wajah itu juga ada banyak kebahagian. Banyak.
”Baiklah, kita selesaikan secepatnya.”
Tuhan, maafkan aku jika ini salah. Maafkan aku karena terlalu mencintainya. Dan maafkan aku karena terlalu egois yang menginginkan anak ini hanya untukku.
 

Senin, 10 Januari 2011

Hidup Yang Berbeda


Sudah hampir seminggu saya menjalani rutinitas yang benar-benar berbeda dari rutinitas yang selama ini saya jalani selama tiga tahun terakhir. Rutinitas dengan ritme lambat dan teratur. Awalnya saya sempat khawatir kalau saya tidak akan bisa melewatinya atau kalau di-alay-kan saya akan mati karena bosan dengan rutinitas ini. Tiga tahun terakhir saya terbiasa dengan ritme bekerja full time, dengan tekanan, masalah, sosialisasi dan sekarang saya harus berada di rumah, dengan hanya menjalankan pekerjaan rumah tangga (yang sempat saya remehkan tapi ternyata tidak semudah yang saya bayangkan). Awalnya saya sempat panik, berusaha menyusun berbagai rencana agar saya tak terlalu lama berada di situasi ini, tapi akhirnya saya belajar satu hal. Saya belajar menikmatinya. Saya berjanji pada diri saya untuk menikmati semua proses yang saya lalui dalam hidup saya (ini resolusi saya tahun ini). Ketika saya merindukan suasana kantor saya, merindukan tekanan pekerjaan saya, merindukan keriuhan teman-teman saya, bahkan merindukan makian atasan saya, saya belajar menikmati kerinduan itu. Ketika saya gelisah karena merindukan seseorang, saya belajar menikmati kegelisahan itu.
Saya benar-benar bisa menikmatinya sekarang. Menikmati kehidupan yang sangat teratur dan tanpa tekanan. Menikmati saat-saat ketika saya bisa sarapan dan makan malam bersama keluarga saya, atau hanya sekedar menonton berita di TV dan bahkan saya sangat menikmati melakukan semua pekerjaan rumah tangga.
Tuhan tidak memberikan apa yang kita inginkan, tapi Tuhan memberikan apa yang kita perlukan. Saat ini mungkin Tuhan memberikan saya waktu untuk beristirahat sejenak sebelum saya memulai sesuatu yang jauh lebih menantang. Tuhan ingin saya keluar sejenak dari hingar bingar, hiruk pikuk dunia kerja bahkan dunia percintaan (hahay….). Dan saya benar-benar memerlukan waktu ini. Saya perlu mengistirahatkan tubuh, pikiran dan hati saya untuk sementara waktu. 

Minggu, 26 Desember 2010

Beautiful Stress

Terinspirasi dari sebuah acara motivasi yang saya tonton semalam, akhirnya saya bisa menghasilkan tulisan ini. Bisa dibilang saya banyak mendapatkan pencerahan dari acara ini.

Judul acara ini adalah "Beautiful Stress" yang intinya kadang kita manusia kurang menikmati proses dalam hidup kita. Padahal jika sebenarnya kita bisa menikmati dan menghargai proses dan tak terlalu fokus pada hasil maka niscaya kita akan bisa lebih menikmati dan menghargai hidup. 

Kita cenderung memiliki pola tersendiri. Pola berpikir, pola sikap dan pola tindakan untuk menghadapi sebuah masalah. Dan kita terkadang terjebak dalam pola-pola itu tanpa bisa berpikir lebih fleksibel. Akankah baiknya jika kita bisa menikmati masalah yang ada, menikmati setiap langkah penyelesainnya tanpa terbebani dengan hasil yang akan kita capai. 

Saya hanya ingin hidup secara sederhana, berpikir secara sederhana, bersikap secara sederhana dan bertindak secara sederhana.

Have a nice Monday....

Rabu, 01 Desember 2010

Browsing Pasangan Hidup

Hidup di kota kecil memang amat sangat berbeda dengan hidup di kota besar. Perbedaannya sangatlah klasik. Masalah gaya hidup sampai dengan pemikiran tentang bagaimana menjalani hidup. Saya memang tumbuh besar di sebuah kota kecil, tapi saya mempunyai kesempatan untuk belajar bagaimana hidup di kota besar. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Buat saya semua memiliki kenikmatan tersendiri.

Setelah empat tahun lamanya saya beradaptasi hidup di sebuah kota yang penuh dengan hiruk-pikuk kehidupan mahasiswa, dari yang glamor hingga perkampungan kumuh, dari  nongkrong di cafe hingga makan di pinggir trotoar, akhirnya saya kembali ke kota dimana saya  tumbuh besar. Di kota besar itu saya sebenarnya sudah mulai terbiasa hidup mandiri atau lebih tepatnya individualis. Gaya hidup yang sebenarnya kurang peduli dengan kehidupan sekitar. Atau kalau bahasa kerennya loe loe, gue gue. Amat sangat berbeda dengan kota kecil, dimana setiap tingkah laku kita menjadi sorotan dan perhatian. Dimana orang-orang disekitar kita terkadang sangatlah peduli dengan perjalanan kehidupan kita. 

"Nunggu apa lagi sih? Kuliah udah selesai, kerja sudah, umur juga udah pantas. Kenapa belum nikah?"
"Jangan terlalu milih-milih, nanti malah dapetnya jelek. Nanti keasyikan milih malah terlena."
"Masak nyari satu aja ngga dapet to? Buruan, nanti umurnya keburu lewat."

Tak ada yang salah memang. Mereka hanya terlalu peduli. Lingkungan mengajarkan mereka bahwa seorang wanita akan bahagia jika sudah berkeluarga. Apa lagi yang harus dicari perempuan kalau bukan pasangan hidup kemudian menikah dan punya anak. 

Kalau di kota besar keadaannya mungkin berbeda. Perempuan tak hanya mencari cinta, tak hanya berkompetensi mencari pasangan hidup. Tapi ada pemenuhan ambisi yang terkadang harus terpenuhi. Entah itu ambisi karier, pendidikan ataupun hasrat lainnya.  Bahwa kebahagian mereka tidak hanya diukur dari mereka sudah menikah atau belum.

Saya yakin semua perempuan punya impian untuk menikah. Begitu juga saya. Tapi saya masih punya banyak impian lain. Saya masih ingin membangun karier saya, saya masih ingin melanjutkan kuliah saya, saya masih ingin melanjutkan kurus Perancis saya, saya masih ingin belajar yoga, saya masih ingin menjadi penulis. Tapi sebenarnya semua itu bukanlah alasan kenapa saya belum punya impian untuk menikah.

Hari ini saya terbangun dengan pemikiran yang sangat konyol. Di jaman yang sudah supercanggih ini apa tidak bisa saya mencari pasangan hidup dengan hanya berseluncur ria di internet. Hanya tinggal mengetik keyword pasangan yang kita inginkan, maka ta da....munculah pilihan-pilihan yang kita inginkan. Apa tidak mungkin si  mesin pencari membantu saya???

Kamis, 28 Oktober 2010

Belief



"Some people do spend their whole lives together" (Anna - Nothing Hill)

Ingin sekali saya bisa percaya lagi kata-kata itu. Ingin sekali bisa seperti dulu, tak terlalu skeptis dan bisa lebih optimis. Badai kemarin telah benar-benar merubahku.......

Thank you for this storm. You did it man!! You realy take my belief in the existence of love, take my dream and my hope away!!!

Selasa, 26 Oktober 2010

Badai

Badaimu pasti telah berlalu. Lautmu telah tenang. Langitmu pun pasti telah berbintang. Kau bisa melaut dengan tenang sekarang. Senyum pasti tak pernah lekang dari wajahmu. 

Badaiku juga telah berlalu. Hanya saja lautku masih resah. Langitku pun belum masih gelap.

Biarlah......

Mungkin lebih baik begini. Agar aku tak mati rasa. Setidaknya aku masih bisa merasakan gelisah lautku dan pekat malamku. Badai telah mencabut salah satu indraku. Indra kepercayaanku. Mungkin kau tak akan pernah tahu apa saja yang telah badai ambil dariku. Kau tak akan pernah perduli. Karena badai ini adalah permainanmu......

Ingin sekali suatu hari nanti kau merasakan apa yang aku rasakan sekarang. Bukan dendam hanya agar ingin kau tahu rasa ini.....


Senin, 25 Oktober 2010

Bulan


Langit malam ini indah. Beruntung aku masih bisa menikmati selimut bumi ini di tempat favoriteku. Bulan dan bintang. Dulu aku lebih memilih bintang ketimbang bulan. Tapi kini aku lebih menyukai bulan. Bulan lebih realistis. Lebih dinamis. Bentuknya tak pernah sama disetiap harinya. Selalu berubah hingga nanti akan kembali ke bentuk semula. Kadang sempurna, kadang hilang setengah, atau hanya seprempat. Di satu hari indah dan terang, di lain hari gelap menakutkan, atau redup tak jelas. Sama seperti hidup yang akan selalu berubah tapi kemudian semua kembali ke asalnya. 

Bintang statis. Sinarnya kadang terlalu memabukkan. Terlalu menyilaukan hingga membuat kita buta. Membuat kita tak bisa berhenti memujanya. 

Cinta
Malam
Bulan

Selasa, 05 Oktober 2010

Korean Movie Night


Jadi ceritanya berkumpulah kami penghuni kos Wisma Galuh kemarin malam. Setelah (seperti biasa) pembahasan tentang gosip-gosip terpanas seputar anak-anak kos untuk hari itu selesai dibahas tuntas, kami semua mulai memikirkan apalagi yang harus kami lakukan agar tidak menyia-nyiakan waktu kami yang sangatlah berharga kemarin malam. Nah setelah berbagai macam pertimbangan akhirnya kami memutuskan menonton film. Tapi kemudian muncul masalah, film apa yang harus kami tonton. Maklumlah kami ini termasuk movie freaks, jadi semua film baru dari hollywood sampai bollywood terbaru sudah kami tonton. Bahkan pernah sampai kami kirim testimoni yang berisi cap jempol kaki kami masing-masing ke produser-produser film agar memproduksi lebih banyak film secepatnya (ah yang ini agak lebay...). 

Setelah dilakukan pemungutan suara, akhirnya dihasilkan suara terbanyak untuk menonton film korea. Tapi ada masalah lagi (ah kali ini terlalu banyak masalah), film korea apa yang mau kami tonton. Perdebatan yang panjang pun tak dapat dihindari. Tapi kemudian setelah musyawarah mufakat akhirnya kami memutuskan menonton film korea yang agak jadul. Dirilis sekitar tahun 2004. 

Nah, akhirnya dimulailah korean movie night. Sebenarnya kami semua sudah pernah menonton film itu, tapi entah kenapa kami masih tetap ingin menontonnya kembali. Walhasil selang setengah jam kemudian efek film itu mulai tampak. Untunglah persiapan kami saat mulai menonton sangatlah matang. Camilan, bantal empuk dan yang paling penting adalah sekotak tisu. Jadilah malam itu kami semua nangis-nangis bombay, mewek-mewek bersama. Ya, inilah efek film korea yang paling kentara. 

Sebenarnya saya sendiri bukanlah penggemar fanatik film korea apalagi yang genrenya drama romantis. Tapi sebenarnya banyak sisi baik yang bisa didapat, setidaknya buat saya. Film korea bisa mengurangi kesinisan saya akan yang namanya "cinta", bisa sedikit mengembalikan saya akan kepercayaan bahwa cinta sejati itu ada. Karena saya bukanlah orang yang percaya akan adanya cinta mati, cinta untuk selamanya atau cinta-cinta lain yang digambarkan secara hiperbola. Saya penganut paham "boyaisme". Tapi saya sadar  bahwa terkadang kadar paham itu terlalu besar dalam diri saya. Dan itu tidak baik. Itulah sebabnya saya perlu penetralisir. Dan film-film korea tersebut menjadi pilihan saya. Lagipula film-film korea, menurut saya termasuk cukup realistis. Tak seperti jenis film lain, yang sebagian besar ending nya selalu bahagia, film korea banyak menyajikan ending yang tak pernah kita duga sebelumnya. Ending yang lebih realistis. 

Korean movie night ini masih bersambung. Nanti malam mungkin kami perlu membeli tisu extra lagi. Sebenarnya saat ini saya mungkin sangat perlu menonton jenis film ini, mengingat saya baru saja kehilangan seseorang (yang pernah bilang "apa bagusnya film korea?") yang menyebabkan kadar ketidakpercayaan saya akan "cinta" meningkat drastis. Jadi mungkin saya perlu lebih banyak penetralisir......

Selamat hari rabu dan selamat menonton film korea.....

Spasi

Baru juga satu hari tapi saya sudah sangat merindukan anda....
Hari ini saya banyak memutar kembali semua kenangan kita. Kenapa kita bisa sampai disini, kenapa kita terkadang bisa begitu saling menyakiti..
Dulu kita sangat bahagia saat keinginan kita tak banyak. Dulu kita bisa menikmati semua masalah kita bahkan menganggapnya tak ada. Kenapa kita tak bisa seperti dulu? Kenapa harus ada banyak keinginan?
Mungkin jeda ini kita perlukan. Mungkin spasi ini kita butuhkan hanya untuk manarik napas sebanyak yg kita perlukan. Menghirup udara yg dulu terasa semakin kita rasa kurang dan menyesakkan dada..........
aku masih berdiri disini, masih menuggumu, masih mengambil jeda sambil menghirup udara sepuasku.....

Jeda ini memiliki arti tersendiri buat saya, untuk memahami lebih dalam tentang rasa itu, ternyata saya rapuh. mudah2an saya bisa mengurangi bermain -main dengan hati orang. Lebih hati-hati.
Anak kecil lebih mudah menemukan kebahagiaan karena mempunyai lebih sedikit keinginan. lebih bisa memaknai masa "sekarang" nya. Saya suka dengan jiwa anak2 ituh.
Ini Adalah perjalanan. Bahkan jeda juga bagian dari perjalanan itu. Nikmatilah!

Percaya atau tidak saya menikmatinya....
Hari ini saya menghabiskan waktu saya seperti anak "abg" ....benar benar "abg"..nongkrong seharian sama anak kos, tertawa, godain cowok (meminjam istilah mereka), nonton film rame-rame tidur pun rencananya rame-rame...
Ya, saya menikmatinya...walau kadang saat saya ingat kembali ada rasa hampa....saat saya tertawa saya belum bisa sepenuhnya tertawa, saat ada kejadian menarik atau pembicaraan yang ga penting dan menggelikan ingin sekali rasanya berbagi dengan anda, ingin sekali rasanya menertawakannya kembali dengan anda.
Jeda ini akan saya gunakan untuk mengumpulkan lagi hal ga penting yang suatu hari nanti bisa saya bagi dengan anda......saat kita tak lagi bergumal dengan begitu banyak keinginan....

Peramal paling jitu pun tidak bisa memastikan masa depan seperti apa. jadi aku tidak bisa berjanji.
Sebuah kesia-siaan ketika kita bermimpi, berandai – andai tentang masa depan disaat kita bisa menikmati setiap moment, setiap ‘sekarang’.  Mendengarkan lagu dari Ipod yang sama, menonton bola, pergi ke gunung, bercerita tentang sesuatu yang nggak penting, semua akan menjadi kenangan di masa depan — yang masih nggak ketahuan apakah akan kulewati dengan atau tanpa kamu.



"Seindah apapun huruf terukir, dapatkah ia bermakna jika tidak ada jeda?
Dapatkah ia dimengerti jika tidak ada spasi??
Pegang tanganku tapi jangan terlalu erat, karna aku ingin seiring, bukan digiring."
( Filosofi Kopi by Dewi Lestari)

Senin, 04 Oktober 2010

Winter

The leaves were falling from the great oak at the meadow’s edge. They were falling from all the trees. One branch of the oak reached high above the others and stretched far out over the meadow. Two leaves clung to it’s very tip.

“It isn’t the way it used to be,” said one leaf to the other.

“No,” the other leaf answered. “So many of us have fallen off tonight we’re almost the only ones left on our branch.”

“You never know who’s going to go next,” said the first leaf. “Even when it was warm and the sun shone, a storm or a cloudburst would come sometimes and many leaves were torn off, though they were still very young. You never know who’s going to go next.”

“The sun seldom shines now,” sighed the second leaf, “and when it does, it gives no warmth. We must have warmth again.”

“Can it be true,” said the first leaf, “can it really be true, that others come to take our places when we’re gone, and after them still others, and more and more?”

“It really is true,” whispered the second leaf. “We can’t even begin to imagine it, it’s beyond our powers.”

“It makes me very sad,” added the first leaf.
They were silent a while.
Then the first leaf said quietly to itself, “Why must we fall?”

The second leaf asked, “What happens to us when we have fallen?”

“We sink down.”

“What is under us?”

The first leaf answered, “I don’t know. Some say one thing, some another, but nobody knows.”

The second leaf asked, “Do we feel anything, do we know anything about ourselves when we’re down there?”

The first leaf answered, “Who knows? Not one of all those down there has ever come back to tell us about it.”

They were silent again. Then the first leaf said tenderly to the other, “Don’t worry so much about it, you’re trembling!”

“That’s nothing,” the second leaf answered, “I tremble at the least thing now. I don’t feel so sure of my hold as I used to.”

“Let’s not talk any more about such things,” said the first leaf.

The other replied, “No, we’ll let it be. But — what else shall we talk about?” It was silent, but went on after a little while. “Which of us will go first?”

“There’s still plenty of time to worry about that,” the other leaf said reassuringly. “Lets remember how beautiful it was, how wonderful, when the sun came out and shone so warmly that we thought we’d burst with life. Do you remember? And the morning dew and the mild and splendid nights…”

“Now the nights are dreadful,” the second leaf complained, “and there is no end to them.”

“We shouldn’t complain,” said the first leaf gently. “We’ve outlived many, many others.”

“Have I changed much?” asked the second leaf shyly.

“Not in the least,” the first leaf said. “You think so only because I’ve gotton to be so yellow and ugly. But it’s different in your case.”

“You’re fooling me,” the second leaf said.

“No, really,” the first leaf answered eagerly, “believe me, you’re as lovely as the day you were born! Here and there may be a little yellow spot. But it’s hardly noticeable and makes you only more beautiful, believe me.”

“Thanks,” whispered the second leaf, quite touched. I don’t believe you, not altogether, but I thank you because you’re so kind. You’ve always been so kind to me. I’m just beginning to understand how kind you are.

“Hush,” said the other leaf, and kept silent itself, for it was too troubled to talk anymore.

Then they were both silent. Hours passed.

A moist wind blew, cold and hostile through the treetops.

“Ah, now,” said the second leaf, “I…” Then it’s voice broke off. It was torn from it’s place and spun down.
Winter had come.

From “Bambi, a Life in the Woods”

Jumat, 01 Oktober 2010

Sawah

“Kok hari ini kamu cantik Jeng?”

“Alaaah Mas iki…berarti kemaren-kemaren saya ngga cantik dong?”

“Lha emang ngga kan..?” (tampang dibego-begoin)

“Argghhhh….Mas iki piye toh? Udah ngga pernah romantis, mbo ya jangan terlalu jujur gitu!” (gerakan tangan memuku-mukul dan mencubit-cubit dengan sasaran pinggang)

“Eeeehhh….sakit to Jeng….mbo ya jangan nyubit-nyubit gitu…jangan di pinggang dong Jeng..”

“Biar aja…lha wong Mas sendiri bikin kesel..!!”

“Yo wis…yo wis…yang penting kan Mas suka sama Diajeng to?”

“Alaaahhh…” (mesem-mesem)

“Eh…Jeng makasi ya udah bantuin nyari rumah... .Udah nunjukin rumah ini”

“Oh..iya Mas..Ora pa pa…Dari dulu kan Mas suka sekali daerah ini. Pengen banget punya rumah di daerah sini.”

“Iya..Jeng…Memang dari dulu ingin punya rumah disini. Suasananya itu lho Jeng..Lingkungannya itu lho..” (menjelaskan dengan gerakan tangan)

“Iya Mas…Nanti kalo Mas udah pindah ke rumah ini, Diajeng harap ini benar-benar jadi tempat  Mas pribadi ya Mas..Become your own privacy gitu..”

“Iya Jeng…”

Kali ini episode tentang sawah. Karena percakapan ini kita lakukan di depan hamparan sawah di dekat rumah yang kau tinggali sekarang. Dulu masih sawah. Tapi sekarang sudah menjadi perumahan baru. Sawah itu sudah tak ada. Sayang aku tak sempat mengabadikan sawah itu dalam bingkai foto seperti bingkai foto batu yang telah aku abadikan. Saat itu kita berkhayal (seperti biasa) membeli satu kaplingan rumah yang akan dibangun diatas sawah itu. Disebelah mana lokasi yang kita inginkan, model rumah, design interiornya, sampai akhirnya kita membahas yang ngga penting lagi.

Ah…tak terasa episode tentang sawah ini sudah 2 bulan yang lalu. ..Saat kau akan memulai kehidupanmu di tempatmu yang baru…

“I don’t want to be your whole world, I just want to be a part of your life…...”

“Woww…I like your words.. Jeng”

Kamis, 30 September 2010

Tentang Kopi


Tulisan ini saya buat karena entah kenapa minggu ini banyak sekali tulisan tentang kopi di dunia perblogan yang saya baca. Ada yang membahas tentang kebaikan kopi yang tersembunyi yang merupakan salah satu antioksidan yang membantu mencegah kanker, tapi tentu saja jika diminum secara tidak berlebihan. Karena kafein yang terkandung di dalam kopi juga dapat menyebabkan penyakit jantung jika dikonsumsi secara berlebihan (8 gelas sehari). Ada yang membahas tentang filosofi kopi dari Tuhan yang menganalogikan kopi dalam sebuah cangkir yang berbeda-beda. Saya sendiri setuju dengan filisofi yang dibuat penulis. Bahwa tak penting kopi itu dalam cangkir plastik atau keramik, tapi yang terpenting adalah rasa kopi itu sendiri. Bahwa rasa kopi itu sendiri adalah kehidupan  yang diberikan Tuhan kepada kita. Terkadang kita hanya cukup berterimakasi saja. Karena Tuhan tak akan memberikan kopi yang bukan menjadi jatah kita. Dan yang terakhir, ada yang membahas tentang kopi luwak yang konon adalah kopi paling mahal di dunia. 

Saya sendiri adalah penikmat kopi. Tapi saya bukanlah penggemar fanatik minuman ini yang bisa membedakan mana kopi yang punya cita rasa tinggi atau cita rasa buruk. Saya hanya penikmat kopi di pagi hari atau sore hari atau ketika saya memerlukan tambahan kafein. Saya suka pagi ketika saya bisa menikmati kopi di balkon kamar atau sore saat matahari mulai memerah. Kopi terkadang obat penenang saat saya merasa gelisah. Kopi apapun itu, dalam cangkir apapun dia disuguhkan adalah kopi yang hanya perlu dinikmati. Itu jelas pilihan yang kita buat sendiri.....

Have a nice friday and a cup of coffee......

Cinta
Senja
Kopi


Batu


"Ah...mas kan memang nggga pernah romantis. Ngga pernah gitu ngasi saya hadiah. Boro-boro hadiah, bilang sayang aja jarang"

"Memang penting ya diajeng? Yang penting kan mas disini sekarang. Makan bareng diajeng. Piye to?  Mesti ngasi apalagi toh?"

"Ya...apa aja mas...Biar kayak orang lain gitu. Biar romantis gitu lho mas.." (Mulut mulai monyong-monyong)

"Yo wis....gini wae...iki mas kasi batu iki. Kan mirip kayak hati toh?"

(Wajah mulai Sumringah) "Wahhh....ternyata mas udah bawa ini dari tadi buat diajeng to? Yo wis ora pa pa mas....walaupun cuma batu yang penting kan bentuknya hati trus mas yang ngasi. "

"Sebenernya mas baru nemu diajeng. Tuh ada di pot bunga tadi"

Sreeeetttttt......Sroooootttt.....Gubraaakkkkk....


Episode batu ini memang benar ada. Batunya juga masih aku simpan di kotak jejakku. Tapi tentu saja dalam episode itu kita ada di kota ini dengan bahasa kota ini. Aku yakin kau masih ingat, karena kau bilang tak akan pernah lupa jejak kita kecuali kau kena sindrom hilang ingatan. Aku benar-benar merindukan hal-hal kecil ini. jejak-jejak kecil ini. Tentang air terjun, danau, mendengarkan iPod bersama, menonton bola, berdebat hal ngga penting.

Suatu hari nanti, saat aku harus pergi, akan kubagi kotak jejak ini denganmu. Karena kotak ini bukan hanya punyaku tapi juga punyamu.....

"Kenapa  kau nyaman bersamaku?"
"Entahlah....aku tak tahu. Yang aku tahu hanyalah aku merasa bahagia ketika aku bersamamu."

Rabu, 29 September 2010

Real

"Your boyfriend is not the center of the universe"

That's right. We have our own life, we have to dicided what we going to do with our self. Don't you ever depending your life with a person. Because when you lost that person you will die, you can not do anything else without that person. Is that realy what you want? 

"People change. Time flies."

Don't be pathetic by depending your happiness with someone or something. This is real world and there is only real love, not romantic love. So, stop faking and just face it.....

Senin, 27 September 2010

Telaga




Pagi ini pertanyaan itu muncul kembali. Kenapa kita tak bisa berada di perahu yang sama. Kenapa tak boleh ada kata "kita" jika aku ingin hubungan ini baik-baik saja. Kenapa aku tak bisa menikmati pagi bersamamu, atau kenapa aku tak bisa melihat indahnya langit di tempatmu. Kenapa bukan aku.

Aku tahu mungkin rasamu padaku sudah tak ada lagi. Terkikis karena lelahmu telah terobati. Menguap karena dahagamu telah menemukan sumber air yang selalu menjadi tujuanmu. Tapi rasaku masih tetap ada. Karena rasaku bukanlah lelah. Bukanlah persinggahan. Rasaku hanyalah telaga kecil yang sempat menjadi tempatmu melepas penat saat kau mencari sumber mata airmu. Tak akan pernah berarti buatmu. Tapi telaga ini tak bisa mengering. Walau aku ingin. Karena alangkah baiknya jika telaga ini menguap kemudian hilang. 

Taukah kau, setiap kali kulihat langkah demi langkahmu menuju sumber air itu rasanya sangat menyesakkan. Rasanya udaraku mengering. Tapi mungkin kau tak akan pernah ingin tahu. Karena setiap kali aku bertanya "kenapa" kau hanya tersenyum kemudian berpaling. Perahu itu pernah menjadi impianku mengarungi samudra bersamamu. Tapi ternyata kau tak menginginkannya. Kau ingin kita berada di perahu yang berbeda karena tak cukup tempat bagiku untuk ada disana. 

Mimpiku tak pernah menjadi mimpimu. Tak pernah ada kata "kita". ........